Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana. Ya, sangat sederhana saat kau menanyakan tentang perasaanku, tak pernah ada ragu dan dengan pasti serta percaya diri aku selalu menjawab 'aku sayang kamu' kemudian kau menanyakan hal yang sama beberapa waktu kemudian kau menanyakan hal yang sama beberapa waktu kemudian, jawabanku tak pernah berubah. Adakah keraguan yang kau rasakan? Aku melihat guratan resah yang tersirat dalam pesan singkatmu yang seolah tak percaya dengan jawabanku dan kemudian membuat aku meyakinkanmu 'apa yang ingin kau ketahui? Tahukah kamu alasanku bertahan dari semua ini? Ya, karena aku sayang kamu' kemudian muncul pertanyaan lain 'apa yang kau sebut bertahan? Bertahan dari apa?' dengan sabar dan sangat hati-hati tak ingin melukai perasaanmu melalui balasanku untuk pesan singkatmu itu aku menjawab 'bertahan dari semua keadaan yang sanggup mematahkan komitmen kita, tak seperti pasangan yang lain tapi mugkin tak sedikit juga yang mengalaminya kita tak berada dalam satu kesatuan yaitu 'jarak' aku bertahan dari setiap hal-hal yang mungkin mampu mematahkan istana kebersamaan dan kepercayaan yang telah kita bangun aku hanya tak ingin kau kecewa'. Tapi kemudian tak cukup hanya disitu, kecemasan itu terasa seperti angin yang berhembus terus mengenaiku kau bertanya 'akankah kau tetap bertahan meski aku tak punya apa-apa?' kali ini tak ada keragu-raguan untuk aku menjawabnya 'sejak kau dan aku menjadi 'kita' apa yang kau miliki? Materi? Aku yakin itu bukan sepenuhnya milikmu, pernahkah aku menuntut?' percayalah kecemasanmu itu hanya kekhawatiran yang tak berujung, aku memang tak bisa menjajikan masa depan yang indah untukmu tetap tinggal dan membangun mimpi-mimpi indah bersamaku, tapi ada satu hal yang aku pastikan bahwa aku tidak meninggalkanmu, ya cukup dengan 'menghargai' itu sudah cukup bagimu membuktikan bahwa kau menyayangiku. Karena sering berkata 'sayang' belum tentu 'bertahan' tetapi ketika 'bertahan' itu sudah pasti karena rasa 'sayang'. Aku mencintamu dengan sederhana, sesederhana kau menghargaiku sebagai pendampingmu, dan aku menghargaimu sebagai calon pemimpinku. Sederhana bukan? Dan aku selalu berharap kesederhanaan ini mampu membuat kita kekal bersamanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar