Rabu, 01 Oktober 2014

My LDR = My Last Destiny Relationship

"Hai apa kabar?”
"Kabarku disini masih sama seperti biasa masih mencintaimu"
"Bagaimana? Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Apanya yang baik-baik saja? Aku? Aku masih setia menanti dan masih sibuk merindukanmu"

Itulah sekelebat percakapan yang hadir disaat kita menghabiskan waktu bersama. Sekedar menyisihkan waktu luang untuk menumpahkan rasa rindu yang semakin membuncah menanti pertemuan yang tak kunjung tiba. Memang tak mudah tapi bukan tak mungkin aku melewatkan separuh waktuku dan tak ingin membuatnya sia-sia, penantian ini merupakan penantian demi janji setia. Semua hal pasti memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya, ya begitu pula aku dan kamu. Namun bagiku perbedaan itu indah, perbedaan memang tidak bisa dipersatukan tetapi dapat berdampingan. Dalam konteks hubungan ini perbedaan dimaksudkan pada jarak dan waktu. Keadaan yang kita hadapi seolah tak memberi ruang yang cukup untuk melepas rindu tapi tak meruntuhkan keyakinan kita untuk tetap bersatu. Seringkali kita bertengkar meributkan perbedaan yang terbentang di antara kita yaitu aku, jarak, waktu, dan kemudian kamu. Kesibukkan yang kita jalani seolah tak cukup untuk sekedar berusaha mengalihkan pikiranku sejenak tentang kamu. Tentang teman-temanmu yang seolah ingin merebut perhatianmu dariku, dengan tugas-tugas yang kunjung usai, dengan segala urusan yang tak terlihat oleh pandanganku. Sehingga timbul pikiran-pikiran buruk tentangmu.

“Kamu beda sama aku, aku nggak bisa cari-cari kesibukkan sampe nggak ngabarin kayak kamu, apa kamu maunya aku begitu? Kamu mau aku nggak ada?”
“Bukan begitu maksud aku, aku sama sekali nggak mau kamu kepikiran sampai sejauh itu, aku cuma mau kamu ngerti kalau aku gak main-main sama kesibukkan aku, aku nggak main-main sama kamu”.

Kopi yang panas akan menjadi hangat dan dapat dirasakan kenikmatannya jika didiamkan beberapa saat begitu juga masalah yang kita hadapi, tak akan menjadi baik jika kita membalas penuh amarah cukup mengalah redamkan dan biarkan suasana menjadi lebih tenang agar kita dapat berpikir dengan jernih dan merenungkan apa kesalahan kita, jangan hanya melimpahkannya kepada pasangan atau membuatnya merasa bersalah. Semua hal yang indah dapat dicapai jika kita berusaha. Seperti kopi tak akan manis jika tak diberi gula, tak akan lembut bila tak diberi krim. Semuanya hanya akan terasa pahit pada akhirnya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Red Bobblehead Bunny